6 Bahaya Bila Sering Konsumsi Makanan Panas Menurut Dosen UM Surabaya

MAKANAN PANAS – Adalah bagian dari kehidupan sehari-hari banyak orang di seluruh dunia. Di Indonesia, khususnya, keberagaman kuliner mencakup berbagai hidangan pedas yang menjadi favorit masyarakat. Namun, sebuah peringatan muncul dari Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) terkait bahaya tersembunyi yang mungkin muncul akibat kebiasaan sering mengonsumsi makanan panas.

Komentar Dari Dosen UM Surabaya Makanan panas

Komentar Dari Dosen UM Surabaya Makanan Panas

Dalam sebuah seminar kesehatan yang diadakan di UM Surabaya, Dr. seorang pakar gizi dan ahli kesehatan, memberikan wawasan mendalam tentang dampak kesehatan yang dapat timbul akibat konsumsi makanan panas secara berlebihan. Dr. UM menggarisbawahi pentingnya kesadaran masyarakat akan bahaya ini dan perlunya pembatasan dalam mengonsumsi makanan pedas.

1. Masalah Lambung dan Refluks Asam

Salah satu bahaya utama dari konsumsi makanan panas adalah dapat menyebabkan masalah lambung dan refluks asam. Kandungan rempah-rempah yang tinggi dapat merangsang produksi asam lambung, menyebabkan sensasi terbakar dan ketidaknyamanan pada lambung.

Dosen UM menjelaskan bahwa “makanan pedas dapat mengiritasi lapisan lambung dan memicu refluks asam, yang pada gilirannya dapat menyebabkan gangguan pencernaan, gastritis, atau bahkan luka lambung.”

2. Gangguan Tidur dan Insomnia

Terlalu banyak konsumsi makanan panas, terutama menjelang waktu tidur, dapat memengaruhi kualitas tidur. Rangsangan dari makanan pedas dapat meningkatkan suhu tubuh dan menyebabkan kesulitan untuk tertidur. Dalam seminar tersebut, Dosen UM menyoroti hubungan antara asupan makanan pedas dan gangguan tidur yang semakin umum di kalangan masyarakat.

“Menghindari makanan pedas sebelum tidur dapat membantu menjaga kualitas tidur dan mencegah insomnia,” ungkapnya.

Baca Juga: 2 Resep Ayam Goreng Mentega Enak Simple dan Praktis

3. Penyakit Perut dan Gangguan Pencernaan

Makanan pedas dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti diare atau sembelit. Rangsangan oleh zat-zat aktif dalam makanan pedas dapat mempercepat peristaltik usus atau bahkan merangsang pelepasan enzim pencernaan secara berlebihan.

Dosen UM menekankan, “Walaupun tubuh sebagian besar dapat beradaptasi dengan makanan pedas, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem pencernaan, menyebabkan masalah perut yang serius.”

4. Resiko Penyakit Kardiovaskular

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan pedas yang berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Rempah-rempah seperti cabai merah dapat meningkatkan tekanan darah dan kolesterol, yang merupakan faktor risiko untuk penyakit jantung.

“Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kebiasaan konsumsi makanan pedas harus diimbangi dengan pola makan sehat dan gaya hidup aktif untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular,” tambah Dr. [Nama Dosen].

5. Masalah Pencernaan Asam Lambung

Asam lambung yang berlebihan akibat konsumsi makanan pedas dapat menyebabkan masalah pencernaan. Dr. [Nama Dosen] menjelaskan bahwa “asam lambung yang tinggi dapat mengakibatkan pembentukan gas, kembung, dan rasa tidak nyaman pada perut.”

Masyarakat diingatkan untuk memperhatikan gejala-gejala ini dan berkonsultasi dengan dokter jika mereka mengalami masalah pencernaan secara terus-menerus.

6. Gangguan Fungsi Hati

Meskipun hubungan langsung antara konsumsi makanan pedas dan gangguan fungsi hati masih dalam tahap penelitian, beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa konsumsi makanan pedas yang berlebihan dapat berkontribusi pada kerusakan hati.

Dosen UM menyarankan agar masyarakat tetap berhati-hati dan membatasi asupan makanan pedas, terutama jika mereka memiliki riwayat masalah hati.

Menyikapi Peringatan dan Menjaga Keseimbangan makanan panas

Menyikapi Peringatan dan Menjaga Keseimbangan Makanan Panas

Peringatan dari Dosen UM menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk menjaga keseimbangan dalam konsumsi makanan pedas. Meskipun makanan panas dapat memberikan kelezatan tambahan pada hidangan, kesadaran akan potensi bahayanya harus tetap tinggi.

“Penting untuk menyadari bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak baik, termasuk makanan panas. Mengenali batas dan menjaga keseimbangan dalam pola makan adalah kunci untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan,” kata Dosen dengan tegas.

Masyarakat diundang untuk membuka diri terhadap saran dan informasi yang disampaikan oleh para ahli kesehatan, seperti Dosen UM untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin tinggi kesadaran masyarakat terhadap dampak kesehatan dari kebiasaan makan tertentu, semakin baik mereka dapat mengelola pola makan mereka untuk mendukung kesejahteraan jangka panjang.

Baca Juga: Trik Memasak Steak yang Lebih Juicy


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *